Selasa, 03 April 2018

Gembira Loka Yogyakarta Zoo Dilengkapi Sentral Servis dan Toilet Bagi Difabel

Untuk memberikan rasa nyaman pengunjung, objek wisata Gembira Loka Yogyakarta Zoo (GL Zoo) Yogyakarta kini dilengkapi dengan sentral servis dan toilet bagi difabel. Di kompleks sentral servis tersebut, juga disediakan fasilitas khusus untuk ibu menyusui atau memerah air susu ibu (ruang laktasi).

Dwi Veriyanto, salah seorang pekerja yang mengurus toilet sentral servis GL Zoo, Jumat (9/3) menjelaskan,  fasilitas toilet untuk difabel dan penyediaan ruang laktasi itu mulai dioperasikan sejak dua hari lalu atau lebih tepatnya tanggal 7 Februari 2018. Toilet sentral servis yang baru selesai dibangun itu, terletak di samping halte 4 Taring (transport keliling).

Fasilitas khusus berupa ruang laktasi itu selain disediakan bagi pengunjung, juga dimanfaatkan bagi karyawati GL Zoo  yang baru melahirkan. Sementara itu, hampir dua pekan ini kebun binatang terbesar di  Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut banyak dibanjiri rombongan pendidikan anak usia dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK).  

Mereka antara lain datang dari Purworejo, Magelang, Banyumas, Grobogan, Salatiga, Semarang, Solo, Temanggung, Wonosobo, Banyumas dan Purwokerto. ''Kami membawa rombongan PAUD Fitrah Insani, Temanggung. Ada sekitar 71 anak PAUD disertai 26 guru dan orangtuanya,'' ujar Fajar Yudin, wakil rombongan yang menyertai rombongan PAUD tersebut.

Sementara Kepala Bidang Wisata GL Zoo, Heri Dharma Setiawan menuturkan,  seiring dengan banyaknya rombongan PAUD dan TK di GL Zoo, Taring yang dioperasikan di kebun binatang itu tak pernah berhenti dimanfaatkan pengunjung. ''Kebetulan rombongan itu jumlah cukup banyak, sehingga kami agak kewalahan,'' ujar Heri Dharma.

Menikmati Keindahan Candi Ijo Yogyakarta dari Tebing Breksi sambil Swafoto

Yogyakarta memang istimewa. Kota Pendidikan ini juga menjadi surganya liburan. Di tempat ini, ratusan objek wisata bisa menjadi pilihan liburan masyarakat. Ada Malioboro, Keraton Yogya, Taman Pintar, Gembira Loka Zoo, Merapi dan lainnya.
Bagi pengunjung yang ingin mencari suansana baru, Yogya juga menyimpan puluhan objek wisata baru. Tebing Breksi salah satu contohnya. Objek wisata yang berada di Sambirejo, Prambanan ini adalah objek wisata yang lagi nge-hits.

Tebing Breksi sangat cocok untuk berswafoto. Awalnya, bukit ini hanyalah sebuah tambang batu kapur yang menyerupai bukit kecil setinggi kurang lebih 20 meteran. Namun belakangan para wisatawan yang hendak berkunjung ke Candi Ijo Yogyakarta kerap menyempatkan diri mampir ke tempat ini untuk sekadar berswafoto.
Pemandangan di Tebing Breksi sangat eksotis. Dari atas tebing, jika cuaca cerah wisatawan dapat melihat Candi Prambanan, Candi Sojiwan dan Candi Barong dengan latar Gunung Merapi.
Tebing bekas galian ini juga menawarkan pemadangan yang menggoda. Saat senja tiba, pemandangan tebing ini sangat indah. Tebing batu yang berwana putih kecokelatan terlihat sahdu dipadu dengan susana senja yang merona. Saat-saat seperti ini menjadi waktu favorit pengujung untuk ber-selfie. Pengelola juga membuat sejumlah ukiran di dinding batu. Lokasi-lokasi ini menjadi spot foto favorit para pengunjung.
“Malam hari pemadanganan juga tak kalah indah. Lampu di Kota Yogya terlihat seperti bintang. Di malam hari lalu lintas pesawat di Bandara Adisutjipto juga terlihat,” terang Choiri (37) salah satu pengunjung.
Selain menawarkan eksotisme lanskap baik siang maupun malam hari, Tebing Beksi juga menawarkan wisata jeep. Di tempat ini ada sekitar 29 jeep wisata dari jenis Suzuki Katana yang bisa mengantar wisatawan keliling ke sejumlah objek wisata di sekitar Tebing Breksi.
“Untuk paket pendek kami hanya mematok tarif Rp200.000. Jeep bisa memuat empat orang,” jelas Ari, salah satu driver jeep. Paket jarak pendek sudah cukup lumayan untuk menyusuri kawasan di sekitar lokasi Tebing Breksi.
Pengunjung akan diajak sensasi naik jeep menyusuri jalan yang menanjak. Paling tidak ada tiga lokasi yang dikunjungi dengan trip pendek ini. Lokasi pertama adalah spot foto di Watu Payung. Lokasinya sekitar tiga kilometer dari Tebing Breksi ke arah timur. Posisinya di atas tebing dengan pemadangan hamparan sawah dan Candi Prambanan.
Lokasi kedua hampir sama dengan watu Payung, spot foto dipinggir tebing. Objek yang terakhir dikunjungi adalah Candi Ijo. Candi ini lokasinya lebih tinggi dari Tebing Breksi. Kita juga bisa melihat pemadangan Kota Yogya dari ketinggian. Tentu saja lokasi ini juga sangat cocok untuk berswafoto dengan background candi dan Kota Yogya.
“Kami juga melayani paket long . Bedanya adalah jarak dan objek wisata yang dikunjungi,” jelas Ari.
Pengelola juga secara periodik menyelenggarakan pentas seni di lokasi ini. Khusus tahun baru kemarin diselenggarakan pentas seni bertajuk “Tebing Breksi Eve Newa Year 2018. “Malam tahun baru kita adakan pentas sendratari dan musik angklung. Di tahun barunya kita ada pentas band indie,” terang Ketua Pengelola Tebing Berksi Kholik Widiyanto.

Kamis, 23 Maret 2017

Persebaya Jadi Pemersatu Restoran di Surabaya

Homecoming Game Persebaya di Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada Minggu (19/3) menjadi cerminannya. Persebaya dan Gelora Bung Tomo menjadi tempat yang ramah bagi siapa saja. Semua golongan restoran di Surabaya dan usia tumplek bleg di stadion terbesar di Kota Surabaya tersebut. Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Laki-laki maupun perempuan. Kaya maupun miskin. Suku, ras, maupun pemeluk agama apa pun duduk bersama.
Para orang tua begitu leluasa memboyong anak-anak ke stadion. Gadis-gadis jelita begitu riang melangkahkan kaki ke stadion. Etnis Tionghoa dan orang Jawa duduk berdampingan di tribun stadion. Bukan hanya di tribun VIP, tapi juga di tribun ekonomi.
Mereka yang berdarah Madura dan Arab melantunkan nyanyian yang sama untuk mendukung Persebaya. Semua melebur menjadi satu. ”Ini bisa jadi edukasi. Bahwa lewat sepak bola, terutama Persebaya, masyarakat bisa jadi satu dan damai,” kata Ahmad Affandi, penonton laga Persebaya kontra PSIS Semarang yang duduk di tribun VIP.
Persebaya memang pemersatu warganya. Karena itu, semua tak pernah ragu untuk datang ke stadion kala tim berjuluk Green Force tersebut bertanding.
”Stadion sekarang sudah bisa jadi tempat wisata bagi keluarga. Dan Gelora Bung Tomo ini juga sangat ramah. Tak ada kata-kata rasis di sini,” ungkap Ernest Stevanus, 36, yang menonton laga Persebaya kontra PSIS dengan anggota keluarganya.
Dengan alasan yang sama, Ratri Aninditha datang ke stadion. Bahkan, dara 24 tahun itu ikut berjingkrak-jingkrak di tribun. Sama sekali tak ada rasa takut bakal dijahili. ”Bonek sudah banyak berubah. Mereka sangat menghargai perempuan,” katanya.